Pengolahan Sawit di Jambi Tak Terpengaruh Covid-19

Jambi: Operasional produksi dan pengolahan kelapa sawit di Provinsi Jambi sejauh ini tidak banyak terpengaruh dan bergerak stabil di tengah pemberlakuan penjarakan fisik atau physical distancing terkait covid-19.


“Industri sawit dan pergerakan harga tidak banyak terpengaruh dengan covid-19, sejauh ini belum ada laporan perusahaan dan kelompok yang terganggu produksinya. Secara umum perdagangan dan transaksi saat ini masih lancar,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Jambi Tidar Bagaskara dikutip dari Antara, Senin, 4 Mei 2020.

Menurut dia, dalam proses jaga jarak dalam panen tidak ada masalah karena para petugas panen kelapa sawit tidak bergerombol, artinya secara social distancing masuk kategori. Pembatasan jarak masih terakomodir proses panen.

Kemungkinan peningkatan sosialisasi physical distancing di perusahaan pengolahan yang perlu diingatkan terus kepada pekerja. Namun itu semua sudah dilakukan sejak jauh hari terkait imbauan physical distancing itu.

Ia menjelaskan dari sisi produksi di kebun, pabrik hingga pendistribusian melalui akses angkutan pelabuhan tidak ada kendala.

“Aktivitas pasokan CPO ke tangki timbun di Pelabuhan Talang Duku di Muarojambi tak ada hambatan, semuanya lancar seperti biasanya,” kata Tidar.

Selain itu pihaknya juga belum menerima adanya laporan kebun, perusahaan dan pabrik kelapa sawit yang menyampaikan kendala terkait dengan pandemi covid-19. Apalagi sampai penutupan PKS atau pabrik, menurut Tidar masih jauh dan sejauh ini sektor itu masih dalam kondisi normal.

Terkait turun naik harga TBS di lapangan itu relatif dan merupakan dinamika selama ini terus bergulir menyesuaikan pasokan dan permintaan.

“Harga TBS saat ini masih di kisaran Rp1.400 hingga Rp1.600-an. Itu masih dalam kondisi pada petani kita masih baik untuk usaha sawit,” katanya.

Bahkan bila dibandingkan dengan tahun lalu, khususnya pada Agustus 2019, menurut Tidar Bagaskara untuk 2020 ini akan jauh lebih baik.

“Saya kira bila dibandingkan dengan 2019 lalu itu jauh lebih berat kondisinya untuk industri sawit, sedangkan untuk 2020 ini untuk sawit kemungkinan lebih baik,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui dengan pandemi saat ini ada peningkatan di biaya sosial, namun hal itu sudah harus dipersiapkan oleh perusahaan.

“Pergerakan harga biasanya dari suplai dan demand saja, namun demikian pada 2020 ini kami pantau terus agar pada puncak permintaan tidak terlalu melimpah sehingga tidak ada penurunan harga yang signifikan. Tapi secara umum sektor sawit masih sehat,” katanya.

Sementara itu PR Dapertement Hear PT Astra Agro Lestari Tbk Topan Mahdi menyebutkan sektor sawit masih optimistis. Protokol ketat di kebun maupun di pabrik industri sawit masih berjalan normal,

“Bila itu ada perlambatan dan harga turun naik memang iya, tapi suplly dan demand bersatu. Kalaupun terkoreksi tak akan seburuk 2019,” kata Topan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *