Ekspor Cangkang Kelapa Sawit Berpotensi Naik

JAKARTA – Ekspor komoditas cangkang kelapa sawit atau disebut palm kernel shell/PKS ke pasar Jepang berpotensi mengalami peningkatan. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyatakan, pemberlakuan kondisi darurat covid-19 di Indonesia tidak menyurutkan kinerja Kementerian Perdagangan dalam mendorong ekspor Indonesia ke pasar global,seperti komoditas palm kernel shell ini ke Jepang.

“Meskipun, Pemerintah Jepang memberlakukan Kondisi Darurat akibat pandemi covid-19 di seluruh wilayah di Indonesia sejak 7 April 2020, Kemendag terus mendorong berbagai potensi produk ekspor, seperti komoditas palm kernel shell ke Jepang yang tercatat relatif stabil dan bahkan berpotensi meningkat,” ungkap Mendag Agus dilansir dari laman Kemendag, Kamis (14/5/2020).

Mendag menyampaikan, salah satu produsen/eksportir Indonesia, yaitu PT International Green Energy telah mengirimkan komoditas palm kernel shell ini sebanyak 10 ribu MT melalui pelabuhan Tanjung Buton Riau pada 28 April 2020 lalu. Pengiriman komoditas palm kernel tersebut tiba di pelabuhan Kochi, Jepang pada 8 Mei 2020.

Dijelaskan Plt Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kasan,pembelian palm kernel shell asal Indonesia ini, dilakukan oleh perusahaan Jepang, yaitu Erex Co. Ltd. Kesepakatan pembelian dilakukan pada Januari 2020 lalu di Jepang dan direncanakan akan berlangsung selama 15 tahun dengan jumlah 120 ribu MT per tahun.

“Kesepakatan ini merupakan salah satu hasil misi dagang yang difasilitasi Kemendag saat Trade Expo Indonesia pada tahun lalu. Selain itu, mulai 2020 akan diekspor perdana palm kernel shell oleh PT International Green Energy dengan mitra lainnya yaitu Tokyo Sangyo Co. Ltd dan pengapalan yang direncanakan akan mulai dilakukan pada bulan Juni—Juli 2020.Kerja sama ini juga akan berlangsung hingga tahun 2030,”ujar Kasan.

Sementara itu, Atase Perdagangan (Atdag) RI di Tokyo, Arief Wibisono menuturkan bahwa Jepang merupakan salah satu negara yang sedang menggalakan penggunaan sumber energi terbarukan, termasuk energi biomassa. Berdasarkan data Kementerian EKonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, kebutuhan akan energi listrik di Jepang hingga 2030, sebagian besar akan disuplai oleh batubara sebesar 26% dan energi terbarukan sebesar 22—24%. Dari nilai tersebut, energi terbarukan tercatat mengalami peningkatan cukup signifikan yaitu sebesar 10,3% dari seluruh pasokan energi nasional Jepang dibanding tahun 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *