Solidaridad Paparkan Visinya yang Ingin Berpihak Petani Kelapa Sawit

Pertemuan antara delegasi dari India yang diwakili Solidaridad bersama CU Keling Kumang dan para petani kelapa sawit berlangsung di  Aula CU Keling Kumang Sintang. Dalam pertemuan ini Country Manager Solidaridad Indonesia, Kulbir Mehta menjelaskan visi daripada Solidaridad tentang keberpihakannya dengan para petani sawit.

Pertemuan ini juga difasilitasi dan dihadiri langsung oleh Bupati Sintang Jarot Winarno. Dalam pertemuan itu disampaikan beberapa visi dari Solidaridad dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan menjaga lingkungan.  “Kami solidaridad membawa program pendampingan untuk para petani. Tujuannya agar memperbaiki kehidupan para petani,” kata Country Manager Solidaridad Indonesia, Kulbir Mehta, Kamis (19/7/2018).

Selain itu juga Solidaridad juga ingin mendampingi mitra kerja dalam menjalankan tugas program mereka di daerah agar lebih baik. “Kita berupaya menginginkan perubahan yang lebih baik dalam mendukung petani sawit mandiri, kita harus menyediakan akses terhadap pasar yang lebih luas,” ucap Kulbir Mehta.

Menurutnya kehadiran para delegasi India ini merupakan bagian dari proses perubahan itu. Ia berharap pada masa yang akan datang bisa bekerja sama dengan seluruh pihak. “Mulai dari petani, lembaga pendamping, pemerintah dan pihak swasta yang dapat memberikan akses dan peranan yang lebih besar dan luas,” tambah Kulbir.

Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan

Sementara pada saat sambutannya, Bupati Sintang, di hadapan delegasi India dan para petani kelapa sawit  yang hadir mengatakan bahwa Indonesia merupakan produsen terbesar kelapa sawit. Sebaliknya India merupakan konsumen produk kelapa sawit terbesar di dunia. “Jadi rantai pasokan kelapa sawit di Indonesia itu sangatlah banyak. Sebanyak 58% sawit di produksi dari perusahaan, dan 42% dikelola oleh para petani sawit mandiri. Ini angka yang sangat besar. Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar,” kata Jarot.  Jarot dalam sambutannya, juga berharap para petani bisa menjadi petani sawit yang mandiri.

“Menjadi petani kelapa sawit, maka dia harus lestari, kemudian menjadi sawit yang suistainable, memiliki program sawit berkelanjutan, sehingga produk sawit yang dihasilkan dapat menjadi sawit yang berkelanjutan,” sambungnya. Bupati Sintang juga menekaknkan dalam bercocok tanam kelapa sawit yang baik itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

“Pertama tanahnya tidak mengganggu lahan yang memiliki nilai konservasi tinggi, kawasan hutan tidak boleh dibuka untuk sawit, serta kawasan tangkapan air.  Kedua dalam membuka lahan petani kelapa sawit tidak boleh tebang dan bakar, ketiga kepatani kelapa sawit gunakanlah bibit yang baik dan pupuk yang ramah lingkungan seperti pestisida, agar semuanya mendapatkan produktifitas sawit yang baik,” tuturnya.

Produktivitas Kelapa Sawit

Menurut Bupati Sintang ini, di Dunia saat ini kelapa sawit hanya mampu menghasilkan tiga hingga empat ton perbulan. Sementara targetnya harus menghasilkan enam hingga delapan ton perbulan. “Dengan program sawit lestari kita ingin peningkatan produktifitas. Pada akhirnya kita akan ikut berkontribusi dalam dunia persawitan. Pembeli dari India yang datang, mereka ingin membeli produk sawit yang terbaik, dan para petani telah menunjukkan hasilnya,” ungkapnya.

Delegasi India,  Atul Chaturvedi mengungkapkan bahwa tujuan Indian Palm Oil Delegation berkunjung ke Kabupaten Sintang untuk mempelajari cara mengembangkan para petani sawit.  “Alasan saya di sini hari ini datang untuk mempelajari bagaimana secara khusus Keling Kumang membangun koperasi. Selain itu juga mengembangkan usaha para petani di bidang sawit. Serta produsen sawit yang terbaik di tingkat yang lebih tinggi. Kami sangat bangga karena petani di sini sangat diprioritaskan. Akan tetapi yang paling penting adalah negara tidak akan berkembang kalau petaninya tidak bisa maju,” kata Atul Chaturvedi.

, ,

Tinggalkan Balasan