Harga TBS di Jambi Masih Terbaik di bandingkan Daerah Lainnya

Jakarta – Di tengah pandemi COVID-19, pelaku bisnis kelapa sawit mulai hulu hingga hilir, menerapkan protokol kesehatan. Seluruh kegiatan industri termasuk program peremajaan pohon (replanting) berjalan mulus.

Seperti disampaikan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Jambi, Tidar M Bagaskara dalam video conference dengan wartawan, Senin (4/5/2020). “Boleh dibilang, tidak ada dampak negatif dari COVID-19 terhadap industri sawit di Jambi. Operasional pabrik dan perkebunan tetap normal. Kalaupun ada, biasanya efisiensi terhadap cost,” papar Tidar.

Saat ini, lanjutnya, industri sawit yang beroperasi di Jambi, jumlahnya sekitar 160 perusahaan. Dan sebanyak 33 perusahaan adalah anggota GAPKI. “Sejauh ini, kita menjalankan protokol dari GAPKI dan pemerintah, baik pusat maupun daerah. Kita selalu berkoordinasi dengan gugus tugas COVID-19 dan pemerintah daerah. Kita terus ingin pastikan agar proses produksi sawit di Jambi tetap normal,” paparnya.

Dijelaskan Tidar, petani sawit di kebun tetap melakukan rutinitas seperti biasa. Termasuk program replanting yang dicanangkan pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) berjalan normal. “Program replanting juga berjalan sesuai agenda. Petani sebagian sudah menerima pencairan dana replanting dari BPDP-KS. Saya sebut sebagian karena memang bertahap,” tuturnya.

Lalu bagaimana dengan penghasilan petani sawit dari penjualan Tandan Buah Segar (TBS)? Diterangkan Tidar, masih cukup baik. Saat ini, harga TBS di Jambi berada di kisaran Rp1.400-Rp1.600 per kilogram. ‘Tahun lalu, TBS di Jambi sempat anjlok hingga Rp900 per kilogram. Saat ini, masih normal. Kisaran Rp1.400-Rp1.600 per kilogram. Dan, proses penjualan lancar. Petani bisa langsung jual ke pabrik,” kata Tidar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *