Menteri Perdagangan Promosikan Sawit Indonesia di Eropa

MENTERI Perdagangan Enggartiasto Lukita mengajak masyarakat Eropa untuk mengakui manfaat kelapa sawit dan kontribusinya terhadap pencapaian Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta mendorong kerjasama yang lebih erat untuk menghadapi persoalan terkait sawit.

Hal itu disampaikan Enggartiasto saat berbicara pada Konferensi Kelapa Sawit Eropa (EPOC) 2018 di Madrid, Spanyol (4/10/2018). Di hadapan masyarakat Eropa, Enggartiasto juga menyampaikan pentingnya industri kelapa sawit nasional bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

“Kelapa sawit merupakan produk yang sangat penting bagi Indonesia. Sawit mampu menyediakan 4,5 juta lapangan pekerjaan, menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 21 juta orang, dan mengangkat 10 juta orang dari kemiskinan,” ujarnya.

EPOC 2018 digelar oleh EU Palm Oil Alliance (EPOA) menghadirkan sejumlah pembicara, termasuk dari Indonesia. Selain Mendag, tampil pula sebagai pembicara Duta Besar RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno, Bupati Musi Banyuasin, Sumatera Selatan Dodi Reza Alex yang juga Ketua Lingkar Temu Kabupaten Lestari serta Sustainability Analyst dari Wilmar Eropa Gersen Sumardi. Hadir pula pada acara tersebut perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Dodi meyakinkan kepada pihak asing kelapa sawit Indonesia merupakan produk yang ramah lingkungan. Selain itu, ia juga menceritakan pengalamannya menjalin sinergitas dengan pemerintah pusat dan stakeholder terkait untuk meningkatkan hasil panen sawit petani demi peningkatan perekonomian masyarakat.

Menurutnya, kampanye negatif yang dituduhkan pada sawit Indonesia telah berdampak pada kesejahteraan masyarakat karena turut menyebabkan penurunan harga minyak sawit di pasar global.

“Saat ini kami diserang  kampanye negatif yang menyatakan produksi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) asal Asia tidak ramah lingkungan. Tuduhan ini digaungkan oleh negara-negara Eropa, sehingga berefek pada penurunan harga minyak  sawit di pasar global. Kabupaten Musi Banyuasin sebagai pemasok produksi sawit Indonesia juga terkena dampaknya,” ungkap Dodi. *** (Sumber: bpdp.or.id)

Tinggalkan Balasan